Minggu, 09 Juni 2013

Makalah Problema Masuk dan Penyebaran Islam di Indonesia

Problema masuk dan penyebaran islam di Indonesia


 


             Nama                                                                         Nim
Resha Vandayanti                                                     06 316 111 017
Ayunda Rahayu Nur Setia                                       06 316 111 0 21
Meidha Sri Andami                                                  06 316 111 019
Nuni rusmiati wijaya                                                06 316 111 039
Melisa Amelia                                                            06 316 1111136

FAKULTAS  KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PGSD (A)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI 2011 / 2012



Daftar Isi

Kata Pengantar……………………………………………………………………………1
Dafrtar isi …………………………………………………………………………………2
A. Problema masuk dan persebaran Islam di Indonesia………………………………….3
- Jalur Penyebaran islam……………………………………………………………..3.1
            - Jalur Perdagangan
            - Jalur Sosial
            - Jalur Pengajaran
            - Jalur kesenian
- Teori – Teeori penmyebaran islam
            - Teori Gujarat
            - Teori mekah
            - Teori Persia
B. Bukti awal masuk Islam ke Indonesia…………………………………………………… 3.2
  C. Problema – Problema Masuknya Islam…………………………………………………... 4
                        - Tinjauan Sejarah Islamisasi Jawa.
                        - Tinjauan Isu Perbedaan Mazhab.
                        - Upaya Bangsa, Golongan atau Kelompok untuk Melemahkan Umat Islam. 
- Tinjauan Isu Perbedaan Mazhab.
                        - Upaya Bangsa, Golongan atau Kelompok untuk Melemahkan Umat Islam. 
Penutup …………………………………………………………………………………………….....5
Daftar Pustaka ………………………………………………………………………………………..6


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya makalah “ Problema dan masuk nya penyebaran islam di Indonesia ” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, meskipun ada berbagai kendala yang kami hadapi.
            Tugas makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah IPS 1 SD sebagai bentuk rasa tanggung jawab kami sebagai seorang mahasiswa dalam memenuhi tugas.
            Saya  ucapkan  terimakasih kepada Dosen Mata Kuliah IPS 1 SD Kota Sukabumi karena telah membimbing kami, serta rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu saya dalam pembuatan makalah ini.
            Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu, kami menerima saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah yang akanating.
           

Sukabumi,   22 September 2012



A. Problema masuk dan persebaran Islam di Indonesia
            Penyebaran awal Islam Indonesia dalam kisaran abad ke-7 hingga 13 Masehi.Penyebarnya berasal dari Arab, Persia, dan India (Gujarat, Benggala).Profesi para penyebar umumnya pedagang, mubalig, wali, ahli-ahli tasawuf, guru-guru agama, dan haji-haji.Mereka menyebarkan Islam lewat sejumlah saluran. Saluran-saluran ini berlangsung dalam enam aras, yaitu perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, seni dan tawaran pembentukan masyarakat egalitarian dalam strata sosial.

Perdagangan.Perdagangan merupakan metode penetrasi Islam paling kentara. Dalam proses ini, pedagang nusantara dan Islam asing bertemu dan saling bertukar pengaruh. Pedagang asing umumnya berasal dari Gujarat dan Timur Tengah (Arab dan Persia).Mereka melakukan kontak dengan para adipati wilayah pesisir yang hendak melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.Sebagian dari para pedagang asing ini menetap di wilayah yang berdekatan dengan pantai dan mendifusikan Islam mereka.

Tatkala para pedagang asing menetap – baik sementara waktu ataupun seterusnya – mereka membangun pemukiman yang disebut Pekojan. Banyak di antara pada saudagar Islam yang kaya sehingga menarik hati kaum pribumi, terutama anak-anak kaum bangsawan, untuk menikahi mereka. Masalahnya, para pedagang menganggap pernikahan dengan penganut berhala tidak sah.Mereka mensyaratkan bahwa untuk menikah, penduduk Indonesia harus masuk Islam dengan mengucapkan syahadat terlebih dahulu. Proses pernikahan singkat, tidak melalui upacara yang panjang-lebar, membuat kalangan pribumi semakin menerima keberadaan orang-orang asing berikut agama barunya ini. Mukimnya pedagang Islam dalam kegiatan perdagangan (sekadar transit atau menetap), membuat mereka berkembang biak di sekitar wilayah pelabuhan. Pola ini mampu mengembangkan pemukiman Islam baru (disebut koloni). Ini menjelaskan mengapa Kerajaan Islam nusantara selalu berawal dari wilayah-wilayah pesisir seperti Bone, Banjar, Banten, Demak, Cirebon, Samudera Pasai, Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, Hitu, ataupun Deli.

Perkawinan.Seperti telah dipaparkan sebelumnya, perkawinan banyak dilakukan antara pedagang Islam dengan putri-putri adipati.Dalam pernikahan, mempelai pria Islam (juga wanitanya) mengajukan syarat pengucapan kalimat syahadat sebagai sahnya pernikahan.Anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut cenderung mengikuti agama orang tuanya yang Islam.Perkawinan antara saudagar Islam dengan anak-anak kaum bangsawan, raja, atau adipati menguntungkan perkembangan Islam.Status sosial, ekonomi, dan politik mertua-mertua mereka memungkinkan Islam melakukan penetrasi langsung ke jantung kekuasaan politik lokal (palace circle). Saat sudah berada di aras pusat kekuasaan politik, penerbitan kebijakan-kebijakan yang menguatkan penyebaran Islam mendapat prioritas dalam input, konversi, dan output kebijakan para sultan atau para adipatinya.

3
Adapun Penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia dilakukan secara damai melalui beberapa saluran-saluran sebagai berikut : 
1.      Jalur Perdagangan .
Melalui perdagangan inilah sangat menguntungkan bagi penyebaran Islam, karena para raja dan kaum bangsawan ikut serta dalam perdagangan ini. Para pedagang muslim banyak yang bermukim di pesisir Jawa (Pantura) yang penduduknya masih kafir
2.      Jalur Sosial
Dari sudut ekonomi para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada penduduk pribumi. Sehingga penduduk pribumi, yang terdiri dari putri-putri bangsawan tertarik menjadi istri-istri saudagar muslim. Namun sebelum dinikahkan, terlebih dahulu diislamkan. Dari perkawinan inilah kemudian saudagar muslim memperoleh banyak keturunan yang juga Islam.
3.      Jalur pengajaran
Masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara juga dilakukan melalui jalur pendidikan. Baik di pesantren-pesantren maupun di pondok-pondok yang diselenggarakan oleh para kiai, para ulama
4.      Jalur kesenian
Diantara kesenian yang paling terkenal adalah wayang.Jalur ini dilakukan oleh Sunan Kalijaga.Beliau adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang.Para penonton dibimbing untuk mengucapkan syahadat.Sebagian cerita wayang dipetik dari Mahabarata dan Ramayana.

            Adapun pendapat tentang penyebaran islam di Indonesia menurut“Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah”, terdapat tiga teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia. Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agamaIslam ke Nusantara
1.      Teori Gujarat
Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
            a. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di        Indonesia.
            b. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia –      Cambay – Timur Tengah – Eropa.
            c. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang    bercorak khas Gujarat.
3.1
2.      Teori Mekkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islammasuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir).

3.      Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islammasuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya.Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13.Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islamadalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).
Bukti Awal Masuknya Islam ke Indonesia
1.        Catatan Dinasti Tang. Sumber sejarah dari Cina itu memberitakan bahwa pada abad ke-7 telah ada pemukiman pedagang Arab di Barus, kota kecil di Pantai Barat Sumatera Utara. Namun, belum dapat diketahui apakah penduduk asli di wilayah itu telah memeluk agama Islam.
2.        Catatan Marcopolo. Marcopolo adalah orang Eropa yang pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia setelah ia kembali dari Cina menuju Eropa melalui jalan laut. Ia mendapat tugas dari Kaisar Cina untuk mengantarkan puterinya yang dipersembahkan kepada Kaisar Romawi. Dalam perjalanannya itu ia singgah di Pulau Sumatera bagian utara. Daerah itu, ia menemukan adanya kerajaan Islam, yaitu Samudera dengan ibu kota Pasai.
3.        Catatan Ma Huan. Catatan musafir Cina ini memberitakan bahwa pada awal abad ke-15 M., sebagian masyarakat kota di pantai utara Jawa telah memeluk agama Islam.
4.        Suma Oriental karya Tome Pires. Buku musafir Portugis itu menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16, daerah di bagian pesisir timur Sumatera dari Aceh sampai Palembang, sudah banyak masyarakat yang beragama Islam. Namun di daerah pedalaman masyarakat setempat pada umumnya masih menganut paham lama. Proses islamisasi ke daerah pedalaman Aceh dan Sumatera Barat terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politik pada abad ke-16 samapai 17 M.
5.        Tulisan pada nisan di Leran Gresik. Memberitakan wafatnya seorang perempuan muslim yang bernama Fatimah binti Maimun. Nisan tersebut dibuat sekitar abad ke-11 M.
6.      Makam Muslim di Trilaya dan Trowulan. Pemakaman dekat Mojokerto itu membuktikan bahwa pada masa pemerintahan Hayam Wuruk sudah ada bangsawan Majapahit yang memeluk agama Islam                          
3.2
C. Adapun problema – problema yang terjadi pada saat islam masuk Indonesia adalah kelemahan internal umat sudah jauh dari al-qur’an dan hadist.
A.     Tinjauan Sejarah Islamisasi Jawa.
Sebelum Islam masuk dan dikenal di Indonesia (jawa), Masyarakat merupakan pemeluk agama Hindu dan Budha yang cukup kuat. Dua agama ini adalah pengubah masyarakat yang dahulunya penganut Animisme. Islam mulai masuk di tanah jawa sekitar tahun 1028M, bukti ini diperkuat dengan ditemukannya makam Fatimah Binti Maimun di daerah gresik. Simon (2004), menjelaskan perkembangan Islam sangat pesat ketika era Wali Songo mulai masuk dan mensyiarkan Islam pada sekitar abad 14M. Rentang waktu ±368 tahun (angka tahun dimakam Fatimah binti Maimun dengan masuknya wali songo) agama Islam tidak berkembang. Kondisi ini diberitakan oleh para saudagar Gujarat pada Sultan Muhammad (Abdul Hamid 1), beliau adalah penguasa Turki sekitar abad 14M. Dibentuklah sebuah tim yang beranggotakan 9 orang untuk mesyiarkan islam dan juga memiliki misi membantu memulihkan kondisi Jawa yang hancur akibat perang paregreg. Dijelaskan oleh Wijisaksono, dalam Simon (2004), kesembilan orang tersebut adalah:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro'il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yangdihuni jin jahat. 
Sembilan orang ini dikenal dengan walisongo generasi 1 (versi non-Jawa). Yang tersebar luas selama ini adalah cerita walisongo versi jawa. Versi ini dipenuhi oleh cerita mistik yang tidak dapat dijadikan acuan sejarah ilmiah. Ada dugaan cerita walisongo (versi non-Jawa) sengaja tidak disebarkan oleh Belanda atau oleh siapa, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya terus dan semakin tersesat dari kenyataan sebenamya. Dengan informasi baru itu menjadi jelas apa dan siapa sebenamya Walisongo itu (Simon, 2001). Tanpa mengesampingkan jasa besar wali songo dalam penyebaran Islam di Jawa, ada hal menarik yang bisa kita kritisi terhadap profil sembilan wali tersebut. (Lihat daftar nama walisongo sebelumnya). Sembilan wali yang dikirim ke jawa tersebut tidak ada satu orang pun yang memiliki latar belakang ahli ilmu
4
agama (ulama), sehingga dimungkinkan pengajaran Islam pada saat itu sebatas pemahaman dan kapasitas ilmu mereka saja. Pengaruh Tashawuf (sufi) juga sangat kental mewarnai ajaran islam yang dibawa oleh 9 wali tersebut. Pembawa ajaran islam pada era walisongo generasi awal, sangat kental nuansa Tashawuf karena mereka (walisongo) sebagian besar berasal dari daerah kekuasaan dinasti Utsmaniah yang telah di”rong-rong” oleh ajaran Tashawuf (Abidin, 2007)

Masih menurut sumber yang sama, dakwah walisongo mulai bergeser pada era sunan Kalijogo sebagai wali generasi ke 4. Pencampuran dengan budaya jawa dilakukan sehingga menghasilkan keberhasilan kuantisasi penganut islam yang sangat besar. Cara dakwah ini disenangi dan didukung oleh penguasa (raja) saat itu. Namun, bagai dua mata pedang, disisi lain pencampuran itu menghasilkan pemahaman agama islam yang bergeser dan semakin jauh dari ajaran sebenarnya. Hal-hal yang sifatnya mistis dan syirik sebagai akibat akar budaya dari pemahaman animisme, hindu dan budha, melahirkan ritual peribadatan yang tidak pernah dicontohkan (Bid’ah) dalam Al-qur’an maupun Sunnah Rosul. Keadaan itu diperparah dengan gerakan zindik akibat tidak senangnya kelompok non-muslim dengan perkembangan ajaran Islam saat itu. Bukan sesuatu yang aneh jika saat ini kita lihat banyak praktek menyimpang dari ajaran Islam yang terus dijalankan, terutama oleh kaum muslim di Jawa.

B.     Tinjauan Isu Perbedaan Mazhab.
Perbedaan mazhab yang dianut oleh individu, kelompok dan organisasi keagamaan menjadi isu yang cukup sering dituangkan dan kita temui sehari-hari dalam kehidupan kaum muslimin. Kejadian-kejadian “lucu” lebih tepatnya memprihatinkan, kerap dijadikan isu pembeda yang mengarah pada ekslusivitas kelompok, misalnya; Perbedaan shollat shubuh menggunakan doa qunut dan yang tidak, Sholat Tarwih 23 raka’at dengan yang 11 raka’at dan yang paling hangat adalah penentuan awal dan ahir puasa yang kerap kali berbeda. 

Menurut pandangan penulis, kalau kita mau sedikit bijaksana, berbesar hati dan melepaskan sikap taqlid yang membabi buta, perbedaan yang ada tidak harus menjadi hal yang memecah belah kesatuan umat, bahkan bisa menjadi satu kekuatan pengayaan khasanah ilmu agama. Sikap Taqlid membabi-buta inilah yang menjadi salah satu penyebab kemunduran dan perpecahan umat Islam. Ibnu Khuldun rahimahullah (808 H), seorang sejarawan Islam menjelaskan:
“Para ulama’ menyeru umat Muslimin supaya kembali taqlid kepada imam-imam yang empat. Masing-masing mempunyai imamnya tersendiri yang menjadi tempat taqlidnya. Mereka sama sekali tidak berpindah-pindah taqlid karena yang demikian itu berarti mempermainkan agama. Tak ada yang tertinggal dari dinamisme pemikiran Islam selain usaha menukilkan ajaran-ajaran yang sudah ditetapkan oleh mazhab-mazhab yang mereka 'anut' , setiap muqallid (orang yang bertaqlid) hanya mempraktikkan ajaran hukum mazhabnya. 
Seseorang yang mengakui dirinya melakukan ijtihad tidaklah diakui orang hasil ijtihadnya dan tak seorangpun yang akan bertaqlid kepadanya. Muslimin pada saat ini telah menjadi serombongan manusia yang hanya bertaqlid kepada imam yang empat tersebut. Inilah yang dikatakan orang sekarang sebagai masa kemunduran umat Islam atau pemikiran Islam atau tertutupnya pintu ijtihad” (Abdullah, tanpa tahun).

Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah: “Mengapa bisa terjadi perbedaan dan pen-taqlid-an terhadap mazhab-mazhab tersebut?” Jawaban pertanyaan ini merupakan kunci untuk bisa menguraikan perbedaan dan taqlid nya umat pada satu mazhab saja, seperti yang terjadi saat ini.

Imam mazhab muncul dan berkembang pada pemerintahan Bani Abbasiyah. Pemerintahan ini sangat memperhatikan perkembangan ilmu-ilmu Islam. Pada masa itu muncullah 4 imam yang termasyur yaitu; Malik bis anas di Madinah, Abu Hanifah di Kuffah, Al-Syafii di Yaman dan mesir, serta Ahmad bin Hambal di Baghdad. Pendapat serta ajaran mereka diberi gelar Mazhab. Saat itu, ajaran Imam Abu Hanifah dijadikan mazhab resmi kerajaan Abbasiah. Para ulama mazhab ini diangkat menjadi gubernur dan mufti bagi daerah-daerah kekuasaan kerajaan. Hal ini menimbulkan perasaan kurang senang bagi pengikut mazhab lainnya. Mereka tidak patuh dan mengamalkan ajaran imam mazhab mereka masing-masing. Kondisi ini rupanya dicermati oleh pemerintah kerjaan. Ahirnya pemerintah melaksanakan acara perdebatan resmi antar mazhab. Kondisi tersebut mengakibatkan persaingan dan perselisihan antar mazhab yang memuncak. Jatuhnya kejayaan Dinasti Abbasiah menyebabkan tiap-tiap daerah memiliki kerjaan sendiri-sendiri. Masing-masing kerajaan menggunakan mazhab yang mereka yakini. Pemerintah kerajaan mengeluarkan aturan yang sangat keras tentang hal ini, para ulama yang tidak mengikuti mazhab resmi kerajaan akan diasingkan dan dibuang. Kondisi ini memperparah ketaqlidan terhadap satu mazhab tertentu (Abdullah, tanpa tahun).
Uraian singkat diatas, cukup memberikan gambaran mengapa bisa terjadi perbedaan mazhab serta taqlidnya umat hanya pada salah satu mazhab saja. Isu perbedaan mazhab ini juga berkembang dan tumbuh subur ditengah umat islam Indonesia.


C.     Upaya Bangsa, Golongan atau Kelompok untuk Melemahkan Umat Islam.
Upaya bangsa, golongan dan kelompok yang tidak menginginkan umat Islam bersatu sangat gencar dilakukan. Sistematika strategi “penghancuran” menggunakan berbagai metoda terus dilakukan sejak dahulu kala. Umat Islam pasti tahu betul upaya yang dilakukan kaum yahudi sejak zaman para nabi, mereka selalu berupaya menggagalkan dakwah para nabi dan rosul dengan berbagai cara. Hal itu terus berlanjut hingga saat ini.
Kegagalan perang salib yang dimulai sejak tahun 1095 hingga 1291 untuk meruntuhkan kekuatan dan kekuasaan Islam serta upaya merebut kembali yarusalem, memicu munculnya perubahan strategi. Kekuatan senjata yang digunakan golongan kristen saat perang salib berubah menjadi perang menggunakan “kasih dan logika”. Henry Martin seorang misionaris mengatakan: “Perang salib telah gagal, karena itu untuk menaklukan dunia Islam perlu resep lain: gunakan “kata, logika dan kasih”. Bukan menggunakan kekuatan senjata atau kekerasan”. Ungkapan senada juga di lontarkan oleh Raymond Lull seorang misionaris pertama dan mungkin terbesar yang menghadapi para pengikut Muhammad SAW. Lull mengatakan “ Saya melihat banyak kesatria pergi ke tanah suci (yarusalem), dan berfikir bahwa mereka dapat menguasainya dengan kekuatan senjata, tetapi pada ahirnya mereka hancur sebelum mereka mencapai apa yang mereka pikir bisa diperoleh”. Dari ungkapan itu kemudian Lull mengeluarkan resep yaitu; Islam tidak dapat ditaklukan dengan darah dan air mata, tetapi dengan “cinta kasih” dan “doa”. 
Ungkapan Martyn dan Lull diatas ditulis oleh Samuel Zwemmer, misionaris Kristen terlkenal di Timur Tengah, dalam buku Islam: A Challenge to faith (1907). Buku tersebut berisi resep untuk “menaklukan” Islam, yang disebut Zwemmer sebagai “beberapa kajian tentang kebutuhan dan kesempatan di dunia para pengikut Muhammad SAW dari sudut pandang missi Kristen”(Husaini ,2003). 
Penulis berpendapat bahwa ungkapan Henri Martyn tentang “logika, kata dan kasih”, perlu dicermati oleh kita (umat Islam), sebagai hal yang sangat serius dan harus dimaknai sebagai sebuah ungkapan yang mengindikasikan dijalankannya sebuah “grand strategy” penaklukan yang sistematis. Perang menggunakan strategi ini berjalan sangat halus bagai sebuah “sel kangker” yang menggerogoti sedikit demi sedikit hingga ahirnya memiliki efek hancur secara total. Begitu dahsyatnya kekuatan terror “logika, kata dan kasih” tersebut hingga mampu menghancurkan imperium besar Islam (Utsmani Turki) yang telah berkuasa hampir 700 tahun. Bukan hanya itu, terror tersebut berlangsung hingga saat ini dengan “kemasan” yang lebih rapih namun memiliki efek hancur yang jauh lebih dahsyat.

Islam tidak hanya “diserang” oleh kelompok yang mengatasnamakan misionaris Kristen. Ternyata kaum Yahudi juga mahfum dengan ungkapan yang dikemukakan oleh Henry Martyn dan Raimond Lull. Bahkan program (strategi) yang disiapkan oleh Yahudi jauh lebih dahsyat. Program Yahudi tersebut dikenal sebagai Protokol Zionis.

Protokol Zionis ditemukan sekitar tahun 1780-an, merupakan sebuah naskah yang berisikan tentang agenda besar kaum yahudi untuk menguasai dunia.Naskah tentang sebuah hasil pemikiran mengerikan yang nyaris sempurna.Manual yang memuat dasar teori, sasaran, metode pencapaiannya, untuk mencapai “kekuasaan mendunia kaum Yahudi”. Dikemudian hari sekitar tahun 1905-an, Protokol yang terdiri atas 24 naskah itu diterbitkan di Rusia oleh Prof. Nilus, yang dikenal luas sebagai The Protocols of The Learned Elders of Zion (Maulani, dalam barokah, 2005). Isi dari protokol tersebut dapat dibaca dalam buku karya Z.A Maulani berjudul “ Zionisme: Gerakan Menaklukan Dunia”.





















Daftar pustaka

























1
Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.










5





Tidak ada komentar:

Posting Komentar